kosmetik hati
Sabtu, 29 Maret 2014
Rabu, 26 Maret 2014
Agama itu mempunyai dua bagian
- Meninggalkan Larangan Allah.
- Menjalankan perintah Allah.
Meninggalkan maksiat itu lebih
berat daripada menjalankan taat sebab menjalankan ketaatan itu semua orang bisa
dan meninggalkan syahwat/larangan itu tidak mampu kecuali Assiddiqun
(orang yang bisa mengalahkan Nafsunya). Oleh sebab itu rosul bersabda :
المهاجرين من هجر السوء والمجاهد من جهد هواه
Artinya “Orang yang hijroh
(berpindah) adalah orang yang menjauhi perbuatan jelek dan yang dinamakan orang
yang berjihad adalah orang yang memerangi hawa nafsunya”.
Melakukan
maksiat itu mesti dengan salah satu anggota badanmu sedangkan anggota badan
adalah nikmat dari Allah dan titipan-Nya, dan semua anggota badan akan menjadi
saksi nanti pada hari qiyamat akan berbicara dengan bahasa yang fasih/ jelas
dan mengatakan tentang kejelekanmu.
Sebagaimana firman Allah
يوم تشهد عليهم السنتهم وايديهم وارجاهم بماكانوا يعملون
اليوم نختم على افواههم وتكلمنا ايديهم وتشهد ارجلهم بما
كانوا يعملون
Maka kita harus menjaga anggota
badan kita dari segala maksiat khususnya anggota badan yang tujuh, sebab neraka
jahannam mempunyai tujuh pintu setiap pintu mendapat bagian.
Anggota tujuh itu adalah mata,
telinga, lidah, perut, Farji (kelamin), tangan dan kaki.
1. Mata
Mata
diciptakan agar kita bisa melihat, bisa menolong atas kebutuhan-kebutuhannya,
bisa melihat keajaiban di langit dan bumi dan mengambil ibarat yang ada
didalamnya.
Kita
harus menjaga mata kita dari
- melihat selain mahram, boleh melihat wanita yang tertutup pakaian selagi tidak berpakaian ketat, jika berpakaian ketat maka tidak boleh sebab ada hadits Nabi
قال رسول الله صلى الله عليه
وسلم من تأمل خلف امرأة وراى ثيابها حتى
تبين له حجم عظامها لم يرح رائحة الجنة
Artinya :
Rosulullah saw bersabda “Orang yang melihat wanita dengan penuh perhatian dari
belakang dan melihat bajunya hingga jelas bentuk tubuh maka ia tidak akan
mencium bau-bauan surga”.
- melihat yang cantik parasnya,
- melihat mukmin dengan hina,
- melihat cacat orang lain.
2. Telinga
Telinga harus dijaga agar tidak
mendengarkan bid’ah (seperti seruling dll) atau Ghibah (menceritakan orang lain
yang ia tidak menyukainya), bicara kotor, atau masuk kedalam ucapan yang bathil
(atau tidak benar), atau menuturkan kesalahan-kesalahan orang lain.
Telinga
diciptakan untuk mendengarkan kalam Allah, dan hadits Nabi juga hikmah dari para
kekasih Allah, dan sebagai perantara mendapatkan ilmu hingga bisa mendapat
derajat tinggi di sisi Allah swt. Jika mendengarkan sesuatu yang tidak disukai
maka menjadi bahaya atas dirimu, dan penyebab kerusakanmu dan ini sangat rugi
oleh sebab itu janganlah menyangka bahwa yang mendapat dosa itu yang
mengucapkan saja yang mendengarkan tidak berdosa, dalam hadits Nabi saw.
ففي الخبر: (أن المستمع شريك القائل وهو أحد المغتابين).
Dalam Hadits “ Sesungguhnya orang
yang mendengarkan itu bersekutu dengan yang mengatakan dan ia termasuk salah
satu dari Mughtabin (orang yang berbuat Ghibah)”.
3. Lidah
Lidah
diciptakan agar banyak dzikir kepada Allah, membaca Kitab Allah, menunjukkan
orang lain ke jalan Allah, dan menampakkan apa-apa yang ada di hati seperti
hajat dunia dan hajat agama. Jika menggunakannya tidak sebagaimana mestinya
maka termasuk orang yang mengkufuri nikmat Allah dan lidah adalah anggota yang
paling menang atas seluruh anggota badan dan manusia tidak masuk neraka kecuali
hasil buruan lidahnya. Dalam hadits.
ففي الخبر: (إن الرجل ليتكلم بالكلمة ليضحك بها أصحابه فيهوي بها في
قعر جهنم سبعين خريفا)،
Dalam hadits “Sesungguhnya
seseorang berbicara dengan kalimat yang bisa menertawakan temannya dan dengan
sebab itu ia masuk ke dasar neraka jahannam dengan 70 jurang” yang dimaksud hadits
adalah membuat orang-orang tertawa dengan menghina salah satu temannya atau menyakitinya bukan
gurawan yang diperbolehkan.
وروى أنه قتل شهيد في
المعركة على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال قائل: هنيئا له بالجنة، فقال:
صلى الله عليه وسلم: (وما يدريك لعله كان يتكلم فيما لا يعنيه، ويبخل بما لا
يغنيه).
Diriwayatkan sesungguhnya ada
seorang sahabat mati dalam medan perang pada zaman Rosulullah saw. Kemudian ada
yang mengatakan “ enak sekali ia mati syahid masuk surga lantas rosul bersabda
“ Apa kamu tahu mungkin saja ia melakukan ucapan yang tidak bermanfaat atau
pelit terhadap sesuatu yang tidak dibutuhkan dirinya.
Jagalah lidah
dari delapan hal
1. Kidzb (Bohong).
Janganlah
Lidah berbohong baik sungguhan atau gurauan dan membiasakan lidah bohong dalam
bergurau sebab akan terbiasa dalam kesungguhannya, bohong tergolong bibit dosa
besar, kemudian ketika kamu diketahui telah berbohong maka hilanglah keadilanmu
(tidak diterima kesaksiannya), kepercayaanmu dan akan menjadi terhina. Jika
kamu ingin mengetahui kejelekan bohong pada dirimu maka lihatlah jika ada orang
lain berbohong kepadamu pasti kamu akan berpaling darinya dan kamu akan
meremehkannya dan menganggapnya ia jelek, begitu juga terhadap sifat-sifat
jelek yang lainnya.
2. Al-Khulfu (Ingkar
janji)
Takutlah kamu
berjanji dan kamu mengingkarinya, sebaiknya kebaikanmu kepada manusia dari sisi
bukti pekerjaannya tanpa ucapan. Jika terpaksa berjanji maka takutlah
mengingkarinya kecuali sakit atau darurot sebab ingkar janji termasuk alamat
munafiq dan akhlaq yang jelek, sebagaimana sabda Nabi.
قال النبي صلى الله عليه وسلم: (ثلاث من كن فيه فهو منافق وإن صام
وصلى: من إذا حدث كذب، وإذا وعد أخلف، وإذا أؤتمن خان).
Nabi saw. Berabda” Tiga orang
jika terdapat tiga sifat ini maka ia termasuk orang munafiq walaupun sholat dan
puasa yaitu orang yang jika berbicara maka bohong, jika berjanji maka
mengingkarinya, jika dipercaya maka berkhiyanat”
3. Ghibah (menyebutkan tentang
orang lain yang ia tidak menyukainya jika mendengarnya).
Kita
harus bisa menjaga lidah dari perbuatan ghibah, ghibah itu lebih berat daripada
zina 30 kali, dalam Hadits makna Ghibah adalah
ورد في الخبر. ومعنى الغيبة: أن تذكر إنسانا بما يكرهه لو سمعه، فأنت
مغتاب ظالم وإن كنت صادقا.
Dalam hadits makna Ghibah yaitu “
Menyebutkan seseorang yang ia tidak menyukainya jika mendengarnya, maka kamu
termasuk orang yang berghibah walaupun yang dikatakannya itu benar”.
Larangan
ghibah dalam Al-Quran adalah
قوله تعالى: (وَلايَغْتَبْ بَعضُكُم بَعْضًا،
أَيُحِبُّ أَحَدُكُم أَن يَّأْكُلَ لَحـْمَ أَخِيْهِ مَيْتاً فَكَرِهْتمُوْهُ).
Janganlah sebagian kamu ghibah
atas sebagian yang lain, apakah kamu ingin memakan daging bangkai temanmu? pasti
kamu tidak akan menyukainya”.
Allah menyerupakan Ghibah dengan
memakan daging bangkainya agar sepatutnyalah agar kita menjaga dari ghibah, dan
agar kita tidak melakukan Ghibah, hendaknyalah kita memikirkan diri kita apakah
dalam diri kita ada cacat dlohir atau cacat batin? Apakah kita melakukan
maksiat? Dan sebagaimana kita tidak suka cacat kita dipermalukan dan aib kita di beberkan maka ia pun tidak
suka aibnya di beberkan dan dipermalukan, jika kita menutupi aib orang lain
maka Allah akan menutupi aib kita jika kita mempermalukan orang lain maka Allah
akan memaksa kita dengan kasar dibalas dengan lisan yang sangat tajam, yang
akan merobek-robek harga dirimu di dunia kemudian Allah akan mempermalukanmu dihadapan
para makhluk kelak di hari qiyamat, jika kita melihat dalam dzohir dan batin
kita tidak melihat cacat dan kekurangan dalam agama dan dunia maka ketahuilah sesungguhnya tidak mengetahui
cacat kita itu termasuk macam dari kumprung (sangat bodoh) yang paling
jelek. Jika Allah menginginkan kita jadi orang baik maka kita akan bisa melihat
cacat pada diri kita. Dan tidak masuk kedalam obrolan yang merusak harga diri
orang lain, tidak mencela orang lain sebab itu termasuk cacat yang paling
besar.
4. Miro (mencela orang
dengan ucapan), Jidal (perdebatan) dan permusuhan.
Perbuatan
diatas akan menyakitkan dan membodohkan orang yang diajak bicara, mencelanya
dan mengandung memuji diri, membersihkan diri dengan anggapan orang tambah
pintar dan banyak ilmunya dan itu mengeruhkan mata pencaharian sebab kamu
tidaklah berdebat dengan orang bodoh
kecuali ia akan menyakitimu, jangan berdebat dengan orang yang lembek (telat
dalam bertindak) maka ia akan membencimu, dan menaruh dendam kepadamu.
قال صلى الله عليه وسلم: (من ترك المراء وهو مبطل بنى الله له بيتا
في ربض الجنة، ومن ترك المراء وهو محق بنى الله له بيتا في أعلى الجنة).
Artinya Nabi saw bersabda “
Barang siapa meninggalkan permusuhan dan perdebatan sedang ia salah maka Allah
membangunkan rumah disekeliling surga, dan barang siapa meninggalkan permusuhan
dan perdebatan sedangkan ia orang yang benar maka dibangunkan untuknya rumah di
surga bagian atas.
Sebaiknya
janganlah kamu tertipu syetan, ia berkata kepada-mu“Tampakkanlah kebenaran dan
janganlah lemah menampakkan kebenaran” sebab syetan selamanya menarik orang
bodoh kepada kejelekan dengan sesuatu yang kelihatannya baik dan janganlah
banyak menertawakan karena syetan maka akan menghinamu, oleh sebab itu menampakkan
kebenaran itu baik terhadap orang yang menerima kebenaran darimu, dan itu
dengan jalan nasehat yang samar bukan dengan jalan debat, dalam nasehat ada
sifat dan tinkahnya seperti dengan ucapan halus dan ditempat yang sunyi, dan
nasehat butuh terhadap cara yang halus, jika tidak, maka akan menjadi Fadihah
(mempermalukan) dan ini akan menimbulkan banyak kerusakannya daripada
kebaikannya. Ketahuilah sesungguhnya perdebatan itu penyebab mendapat kebencian
dari Allah dan makhluknya.
5. Menganggap bahwa dirinya bersih.
قال الله تعالى: (فَلا تُزَكُّوا
أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى)
Allah swt berfirman “ Maka
janganlah kalian menamakan diri kalian itu
orang bersih, Allah lebih mengetahui terhadap orang yang bertaqwa”.
Sebagian ahli Hikmah ditanya :
apakah kebenaran yang jelek? Ahli hikmah menjawab Seseorang memuji dirinya,
maka takutlah melakukan itu sebab itu bisa mengurangi derajatmu di hadapan
manusia dan akan mendapat kebencian dari Allah swt. Jika kamu ingin mengetahui
kejelekan memuji dirimu itu mengurangi derajat maka lihatlah temanmu jika ia
memuji dirinya dengan keutamaan, harta atau pangkat bagaimana perasaan hatimu
menolaknya dan merasa berat menerimanya dan bagaimana kamu mencelanya ketika
kamu berpisah dengannya oleh sebab itu ketahuilah ketika kamu memuji dirimu
juga mereka pasti akan mencela dirimu dalam hatinya dan akan mencela dengan
lidahnya kepada orang lain ketika berpisah dengannya.
6. Melaknati seseorang (laknat
adalah menjauhkan seseorang dari Allah).
Janganlah
melaknati sesuatu dari makhluk Allah baik hewan makanan atau manusia dengan
ainnya. Adapun melaknat sifat yang umum seperti semoga Allah melaknati
orang-orang yang berbuat dzolim atau semoga Allah melaknati orang-orang nasroni
atau yahudi maka boleh. Janganlah mengatakan seseorang dari ahli qiblat dengan
orang musyrik atau kafir atau munafiq sebab yang mengetahui hatinya adalah
Allah maka janganlah masuk antara Allah dan Hambanya, ketahuilah sesungguhnya
kamu pada hari qiyamat nanti tidak akan ditanya kenapa kamu tidak melaknati si anu?
Kenapa kamu diam? Bahkan jika kamu tidak melaknati iblis seumur hidupmu maka
tidak akan dituntut nanti hari qiyamat, tapi jika kamu melaknati seseorang dari
makhluk Allah maka kamu akan dituntut, dan janganlah mencela sesuatu dari
makhluk Allah. Rosulullah ketika makanan itu suka maka memakannya dan ketika
tidak suka maka tidak memakannya. Sebagaimana hadits :
كان النبي صلى الله عليه وسلم لا يذم الطعام الردىء قط، بل كان إذا
اشتهى شيئا أكله وإلا تركه.
“Rosulullah tidak pernah mencela
makanan yang jelek tapi ketika Nabi suka pada makanan itu maka memakannya dan
ketika tidak suka maka tidak memakannya”.
7. Mendoakan jelek kepada makhluk
Allah
Kita
harap menjaga lidah kita dari mendoakan jelek kepada salah satu makhluk Allah,
walaupun ia menyakiti kita, maka serahkanlah permasalahannya kepada Allah dalam
hadits.
في الحديث: (إن المظلوم ليدعو على ظالمه حتى يكافئه ثم يبقى للظالم
فضل عنده يطالب به يوم القيامة).
Dalam Hadits “Sesungguhnya madzlum
(orang yang teraniaya) saat mendoakan kerusakan kepada orang yang berbuat
dzolimnya, hingga Allah membalas dengan yang sebanding dengan kedzolimannya kemudian
ada sisa bagi orang dzolim sebuah lebihan di sisinya maka orang yang mendoakan
akan dituntut pada hari qiyamat”.
8. Bergurau, menghina, dan
mengejek manusia.
Kita
harap menjaga lidah kita dari Bergurau, menghina, dan mengejek manusia
sesungguhnya itu bisa menghilangkan ma-alwajhi (sinar wajah) dan
menghilangkan kewibawaan, menarik keresahan, menyakiti hati teman-temannya, ini
adalah permulaan terjadinya permusuhan, kemarahan, terpotongnya persahabatan,
dan menimbulkan dendam dihati, oleh sebab itu kita tidak boleh bergurau dengan
seseorang dan berpalinglah dari gurawan dan masuklah kepada obrolan atau cerita
yang lain, dan kita harap menjadi orang yang ketika menemui gurawan yang saling
menjelek-jelekkan maka kita memerintah dengan baik dan mencegah kemunkaran, ini
semua adalah kumpulan bahaya-bahaya lidah, maka tidak ada yang bisa menolong
lidah kita dari itu semua kecuali Uzlah (menyendiri), atau selalu diam
kecuali ada keperluan saja, maka sahabat Abu Bakar selalu menaruh batu
dimulutnya agar bisa mencegah lidah tidak bicara, kecuali ada keperluan yang
sangat, dan berisyarah ke lidahnya terus berkata” inilah yang bisa mendatangkan
bahaya, maka kita harap menjaga lidah kita dengan sekuat tenaga sebab lidah
adalah penyebab terkuat terjadinya kerusakan baik di dunia maupun akhirat.
4. Perut
Kita harus
menjaga perut dari hal yang syubhat dan haram, dan berjuanglah mencari yang
halal jika sudah mendapatkannya maka jangan sampai kenyang, sebab kenyang akan
menjadikan keras hati, dan merusak otak, merusak hafalan, menjadikan badan
berat untuk beribadah, menguatkan syahwat, dan menolong bala tentara syetan,
Kenyang dari hal yang halal itu permulaan segala kejelekan, maka bagaimana
kenyang dari hal yang haram? Mencari halal itu hukumnya wajib atas setiap orang
islam dan ibadah beserta makanan yang haram itu laksana bangunan diatas
telepong. Jika kamu menerima dalam setahun dengan baju yang kasar dan dalam
sehari semalam menerima dengan memakan roti yang jelek (sebab makanan orang arab
dan sekitarnya roti), dan tidak enek-enakan dengan lauk yang enak dan lezat,
maka itu tidak akan melemahkanmu dengan apa yang menjadi kecukupanmu, perkara
halal itu banyak sekali, dan kita tidak harus meneliti dengan jelas dalamnya
suatu makanan tentang halal dan haramnya tapi cukup menjaga dari yang kamu tahu
bahwa ini haram atau menyangka itu haram maka hasil alamat yang jelas yang
dibarengi dengan harta, adapun yang telah diketahui halal dan haramnya maka
sudah jelas, adapun yang masih dalam prasangka ke haramannya dengan adanya
tanda-tanda adalah harta sultan dan para pekerjanya dan hartanya orang yang
tidak kasab (usaha mencari uang) kecuali dengan menangis dengan teriak-teriak
didepan mayit, atau menjual arak atau riba memainkan seruling, dan lain-lain
dari alat allahwi jika kita mengetahui
bahwa seseorang itu kebanyakan hartanya itu haram maka kita jangan mengambilnya
dari tangannya, walaupun mungkin saja hartanya itu halal, maka tetap itu haram,
sebab yang dimenangkan adalah prasangka. Termasuk haram murni lagi adalah
sesuatu yang diambil dari waqaf selain yang disyaratkan orang yang memberi
waqaf. Kami (imam Ghozali) telah menerangkan tentang halal syubhat dan haram
dalam bab khusus dalam kitab Ihya Ulumiddin maka sebaiknya kita mempelajarinya
sebab mempelajari halal yang mencari halal itu hukumnya wajib atas setiap orang
islam seperti sholat lima waktu.(Al-Ghozali, Bidayatul Hidayah : 72)
5. Farji
Kita
harap menjaga farji (kemaluan) dari hal-hal yang diharamkan Allah dan menjadi
orang yang seperi dalam alqur’an :
(وَالذَينَ هُمْ لِفُرُوْجِهِمْ حَافِظُوْنَ، إِلاَّعَلَى أَزْوَاجِهِمْ
أَوْمَامَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُوْمِيْنَ).
Dan orang-orang yang menjaga
farji-farjinya kecuali kepada isteri-isterinya atau budaknya).
Dan menjaga farji itu bisa
sempurna dengan menjaga matanya dari melihat terhadap hal yang dilarang,
menjaga hati dari mengangan-angan keindahan yang ia inginkan, menjaga perut
dari syubhat dan kenyang, maka semua ini akan menggerakkan syahwat.
6. Kedua
tangan
Kita harap
menjaga kedua tangan kita dari memukul orang islam dengan kedua tangannya. Atau
mendapatkan harta haram, atau menyakiti salah satu dari makhluk Allah, atau
khiyanat terhadap amanat atau titipan, atau menulis sesuatu yang tidak boleh
mengucapkannya, sebab pena itu salah satu lidah maka kita harap menjaga tangan
kita dari hal yang lisan wajib menjaganya.
7. Kedua
Kaki
Kita harus
menjaga kedua kaki dari berjalan menuju hal yang haram atau berjalan menuju
pintun sultan yang dzolim sebab mendatangi sultan dzolim tanpa darurat itu
termasuk dosa besar, sebab itu termasuk merendahkan diri dan memulyakan mereka
atas kedzolimannya, dan Allah memerintah agar berpaling dari kedzolimannya.
(وَلا تَركَنوا إِلى الَّذينَ
ظَلَموا فَتَمَسَكُم النار)
“Janganlah kamu condong dan
merasa tenang kepada orang-orang yang berbuat dzolim, maka kamu akan terkena
api neraka”.
Dengan kita cenderung suka
kepadanya itu menjadikan golongan mereka bertambah banyak, jika mendatangi
sultan dzolim itu untuk mencari hartanya maka ia berjalan menuju hal haram. Sebagaimana
hadits Nabi saw.
قال صلى الله عليه وسلم: (من تواضع لغنى صالح لغناه ذهب ثلثا دينه)
Nabi saw bersabda”Barang siapa
berendah diri kepada orang kaya yang sholeh sebab kekayaannya maka hilang dua
pertiga Agamanya”
Yang dimaksud agama disini
menurut kiyai Nawawi banten dalam kitab Muroqil’ubudiyyah adalah adab yakni
adab itu ada tiga adab bersama Allah, Adab bersama Rosul, dan adab bersama
seluruh manusia maka ketika kita tawadu’ kepada orang kaya yang sholeh maka
hilang dua pertiga adabnya yaitu adab bersama Allah dan adab bersama Rosulnya.
Ini tawadu’ kepada orang kaya
yang sholeh maka bagaimana jika kepada orang kaya yang dzolim? Kesimpulannya
semua gerakan kita, diam kita, itu adalah nikmat dari Allah maka janganlah
menggerakkan suatu anggota untuk maksiat kepada Allah tapi gunakanlah untuk
taat kepada Allah.
Ketahuilah
sesungguhnya jika kita telat dalam taat maka kita semberono dalam menggunakan nikmat
Allah, jika kita semangat dan giat maka akan keluar buahnya, dan Allah tidak
butuh terhadap kita dan amal kita.
قال على رضى الله عنه : من ظن أنه بدون الجهد
يصل إلى الجنة فهو متمن ومن ظن انه ببذل الجهد يصل فهو متعن
Sayidina Ali berkata “Barang
siapa menyangka sesungguhnya ia bisa mendapatkan surga tanpa beramal yang giat
maka ia orang yang melamun, Barang siapa bisa mendapatkan surga dengan berusaha
susah payah maka ia termasuk orang yang mempunyai keinginan”.
Dan
janganlah berkata sesungguhnya Allah maha dermawan, maha pengasih, maha
pengampun terhadap orang-orang yang maksiat, akan tetapi kita malas-malsan
dalam ibadah maka kalimat ini adalah kalimat haq yang di inginkan oleh para
ahli batal dan orang yang mengatakannya adalah kumprung (sangat bodoh
atau rusak aqalnya) sebagaimana yang disabdakan rosulullah saw.
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم حيث قال: (الكيس من دان نفسه وعمل
لما بعد الموت، والأحمق من أتبع نفسه هواها، وتمنى على الله الأماني).
Rosulullah saw bersabda “Orang
Cerdas adalah orang yang merendahkan dan memaksa hawa nafsunya (yaitu nafsu
Ammaroh dan nafsu Allawwamah) dan beramal untuk kehidupan setelah mati,
sedangakan orang kumprung adalah orang yang mematuhi hawa nafsunya dan
mempunyai angan-angan dari Allah pengharapan yang besar)”.
Diantara ucapan yang batal lagi
adalah “sesungguhnya Allah maha dermawan, maha kasih sayang mampu mengalirkan
ilmu ke dalam hatiku sebagaimana Allah memberinya kepda para Nabi-Nya dan para
Kekasih-Nya tanpa usaha yang sungguh-sungguh dan belajar yang giat, itu sama
saja seperti orang yang ingin harta akan tetapi tidak mau usaha bertani atau
berdagang atau kasab lainnya, dan berkata sesungguhnya Allah maha dermawan lagi
kasih sayang dan Allah mempunyai gudang kekayaan di langit dan bumi dan Allah
mampu memperlihatkan gudang itu kepadaku hingga aku menjadi kaya, dan orang lain
ada yang mendapatkan itu, jika kita mendapatkan orang yang semacam itu maka
anggap saja mereka itu orang kumprung, begitu juga jika kita mencari ampunan
Allah tanpa beramal maka akan ditertawakan oleh para ahli agama sebab Allah
berfirman dalam Al-Quran.
والله وتعالى يقول: (وَأَن لَيسَ لِلإِنسان إِلَّا مَا
سَعَى)،
“Dan sesungguhnya manusia tidak mendapat apa-apa kecuali apa
yang ia kerjakan”.
ويقول: (إِنَما تُجزونَ ما كُنتُم تَعملون)
“Kalian akan dibalas apa-apa yang
kalian lakukan”.
ويقول (إنّ الأَبرارَ لَفي نَعيم،
وَإنّ الفُجارَ لَفى جَحيم).
“Sesungguhnya Orang-orang baik itu akan berada dlm surga
An-Naim, dan orang-orang yang berbuat lacut akan masuk neraka Jahim”.
Ketika
kita tidak meninggalkan usaha dalam mencari ilmu dan harta karena mengharap
kedermawanan Allah maka kita juga jangan meninggalkan bekal untuk dikehidupan
Akherat. Sebab Tuhan dunia dan Tuhan Akherat itu satu yaitu yang Maha Dermawan
lagi maha kasih sayang, dan Allah tidak akan menambahkan kedermawanannya dengan
sebab taat kita, kedermawanan Allah itu adalah Allah memudahkan kita jalan bisa
sampai ke Allah yang menjadi raja yang mempunyai kenikmatan yang langgeng dan
abadi dengan sabar atas meninggalkan syahwat (kesenangan dunia) pada hari yang
sedikit dan mendapat kemudahan ini adalah kedermawanan terbesar, janganlah hati
kita mengikuti ucapan-ucapan ahli bathol (pemalas), dan ikutilah jejak Rosul
ulil azmi dan orang-orang pandai, dan janganlah menginginkan memanen sesuatu
yang kita tidak menanamnya dan semoga saja kita mendapat ampunan jika kita
berpuasa, sholat, bersungguh-sungguh memerangi hawa nafsu dan bertaqwa, ini
semua adalah jumlah dari sesuatu yang kita wajib menjaga anggota dzohir dan
mengamalkan anggota-anggota ini adalah tumbuhnya dari sifat hati.
Jika kita
ingin bisa menjaga anggota badan kita, maka kita harus membersihkan dan menyucikan hati kita yaitu
taqwa bathin, hati adalah sebuah gumpalan daging yang jika ia baik maka seluruh
tubuh baik semua dan jika ia rusak maka rusak seluruh tubuhnya, maka kita
sebaiknya menyibukkan diri untuk membersihkan hati kita agar seluruh anggota
tubuh kita baik, dan hati bisa baik jika hati bisa muroqobah (mendatangkan
hati kepada Allah).
Sebagaimana yang dikatakan oleh
sebagian ulama “Yang bisa memperbaiki hati itu lima hal :
1. Banyak lapar (puasa),
2. Membaca Al-Quran dengan
meng-angan-angan maknanya.
3. Tadlorru’ (merendahkan diri di
hadapan Allah) ketika waktu sahur,
4. Sholat di malam hari,
5. Berteman orang sholeh”.
MAKSIAT-MAKSIAT HATI
Sifat-sifat tercela yang ada di
dalam hati itu banyak sekali, adapun jalan untuk membersihkannya itu panjang
sekali dan jalan untuk menyembuhkannya itu sulit, dan tentang mengobati dan
memperbaiki itu semua sudah diterangkan dengan jelas dalam kitab Ihya Ulumiddin
karangan Imam Ghozali. Akan tetapi hati-hatilah terhadap sifat yang sangat
merusak dan ini termasuk bibit kejelekan yaitu hasud (iri hati), riya
(beramal karena manusia), dan Ujub (menganggap dirinya
hebat). Maka kita harus bersungguh-sungguh membersihkan hati kita dari
sifat-sifat itu.
قال صلى الله عليه وسلم: (ثلاث مهلكات: شح مطاع، وهوى متبع، وإعجاب
المرء بنفسه).
Nabi saw bersabda : tiga hal akan
merusak yaitu pelit yang terlalu yang dipatuhi, hawa nafsu yang di taati, dan
merasa dirinya hebat.
Hasud (iri
hati)
Hasud itu cabang dari asy-syukh
(pelit yang sangat), sebab orang yang pelit itu pelit terhadap apa yang ia
miliki terhadap orang lain, sedang Asy syakhih adalah orang yang pelit dengan
nikmat Allah yang berada dalam kekuasaan Allah bukan dalam kekuasaannya atas
orang lain.
Hasud adalah
orang yang merasa berat ketika orang lain mendapatkan nikmat dari Allah baik
berupa ilmu atau harta atau dicintai orang banyak atau bagian-bagian baik
lainnya hingga merasa senang terlepasnya nikmat tersebut dari orang itu
walaupun ia tidak akan mendapatkan sesuatu dari hilangnya nikmat tersebut. Maka
ini adalah perbuatan yang paling jelek. Sebab Nabi saw bersabda
قال النبي صلى الله عليه وسلم: (الحسد يأكل الحسنات كما تأكل
النارالحطب).
Nabi saw bersabda “ Hasud itu
memakan kebaikan sebagaimana Api memakan kayu bakar”.
Hasud
itu orang yang terkena siksa dan ia selamanya selalu dalam siksaan di dunia dan
akherat sampai mati dan siksa akherat lebih berat dan lebih besar. Akan tetapi
seseorang tidak akan samapi kepada haqiqat iman selagi ia tidak mencintai orang
lain seperti mencintai dirinya, sebaiknya saling bersama-sama dalam suka dan
duka sebab orang islam semuanya itu seperti bangunan yang satu, orang yang satu
menguatkan kepada yang lainnya atau seperti satu badan jika salah satu anggota
badan sakit maka sakit seluruh badannya. Jika dari hati kita tidak menemukan
rasa cinta maka mementingkan agar tidak membuat kerusakan, itu lebih utama dari
pada melakukan tambahan fardu atau sunnah dan ilmu permusuhan. (Al-Ghozali, 77)
menurut Ibnu Baththol “cinta itu ada
tiga bagian : 1. Cinta Ijlal dan Ta’dzim (cinta yang karena
mengagungkan) yaitu cinta kepada orang tua, 2. cinta Syufqoh dan Rohmah (kasih
sayang) yaitu cinta kepada anak. 3. cinta istihsan (cinta menganggap baik)
yaitu cinta kepada seluruh manusia.
Hasud itu menggerakkan lima hal :
1.
Rusaknya semangat ta’at kepada Allah swt.
2.
Melakukan maksiat dan kejelekan.
3.
Rasa cape dan mendapat kesusahan.
4.
Butanya hati nurani.
5.
Terhalang dan tidak akan mendapatkan apa
yang diharapkannya. (Al-Bantani, Muroqil Ubudiyyah: 77)
Riya
Riya itu termasuk Syirik Khofi,
riya adalah mencari tempat tinggi di hati para manusia agar mendapat
pangkat dan keagungan.
Cinta pengkat itu menuruti hawa
nafsu dan kebanyakan orang rusak dengan ini, orang yang banyak ilmunya, banyak
ibadahnya dan yang membangkitkannya adalah agar di lihat oleh orang-orang maka
itu bisa melebur amal sebagaimana dalam hadits Nabi saw sesungguhnya orang yang
mati di medan perang pada hari qiyamat di masukkan ke neraka terus ia berkata
wahai Tuhanku aku mati di medan perang membela agamamu? Allah menjawab kamu
berperang itu bukan membela agamaku tapi agar kamu dikatakan orang-orang
sebagai orang hebat dan pemberani dan kamu telah mendapatkannya, dan semacam
ini dikatakan juga kepada orang Alim,
haji dan hafidz al Quran yang berbuat riya. (Al Ghozali, Bidayatul Hidayah:
78). Riya itu banyak sekali macamnya dan dikumpulkan dalam lima macam yaitu :
1.
Riya dalam beragama dengan badan seperti
badan ceking, agar dikatakan orang banyak puasa atau sedikit makan, atau badan
terlihat kuning loyo agar terlihat oleh orang bahwa ia banyak begadang ibadah
di malam hari, atau badan semrawut agar kelihatan ia banyak susah memikirkan
dalam agama.
2.
Riya dalam tingkah laku dan pakaian
seperti menundukkan kepala saat berjalan, lamban dalam bergerak, menampakkan
bekas sujud, memakai pakaian yang tambalan, memakai pakaian yang kotor.
3.
Riya dengan ucapan seperti bekata dengan
kata-kata hikmah, banyak dzikir di hadapan manusia, amar am’ruf nahi mungkar
dihadapan manusia, menampakkan kemarahan terhadap kemungkaran di hadapan
manusia, dan menampakkan kegelisahan terhadap orang-orang yang maksiat,
menampakkan suara lemah saat bicara, membaca al-quran dengan suara merintih di
hadapan orang agar terlihat takut kepada Allah, dan sedih.
4.
Riya dengan Perbuatan seperti ketika
sholat lama dalam berdiri, ruku dan sujud, tidak menoleh dan menampakkan
kelihatannya tenang, menyempurnakan kedua kaki dan kedua tangan juga dalam
puasa, haji, sedekah dan memberi makanan.
5.
Riya terhadap teman-teman, para pengunjung,
teman kumpulan seperti mengunjungi orang alaim, ahli ibadah atau penguasa atau
raja dan sebawahnya atau pekerja sultan agar dikatakan ia mengambil berkah dari
mereka sebab ia mempunyai derajat tinggi dalam agama, dan banyak menuturkan
para syekh agar dianggap bahwa ia banyak bertemu para syekh dan mengambil ilmu
dari mereka dan membanggakan syekh-syekh itu. (Al-Bantani, Muroqil Ubudiyyah:
78).
UJUB SOMBONG DAN
MERASA BESAR
Ujub, sombong, dan merasa dirinya
besar itu adalah penyakit yang sulit, yaitu melihat dirinya itu besar dan agung
sedangkan melihat orang lain dengan mata rendah dan hina, dan bentuk buahnya
adalah mengatakan sayalah…sayalah sebagaimana yang diucapkan iblis saya lebih
baik daripada Adam, aku diciptakan dari api sedangkan ia dari tanah. Dan
buahnya di dalam majlis ingin lebih di dahulukan di tinggikan dan mencari
paling depan, dalam omong-omongan ia omongannya tidak mau ditentang.
Orang sombong adalah orang yang jika di
nasehati menolaknya, jika menasehati maka bicara dengan keras dan jika ada yang
tidak sesuai dengannya maka marah, jika mengajarkan ilmu maka tidak kasih
sayang terhadap muridnya merendahkannya membentak-bentaknya melihat kepada
orang umum seperti melihat keledai yaitu menganggapnya bodoh dan hina.
Maka setiap
orang yang memandang bahwa dirinya itu lebih baik dari orang lain itu termasuk
orang sombong. Tapi sebaiknya kita mengetahui sesungguhnya orang yang lebih
baik adalah orang yang lebih baik di hadapan Allah di Akherat, dan itu adalah Ghoib
(tidak diketahui), dan masalah itu digantungkan pada ahir hidupnya atau
matinya, jika kita berkeyaqinan dalam hatinya bahwa kita lebih baik dari orang
lain maka itu termasuk kebodohan murni, tapi sebaiknya janganlah memandang
orang kecuali kita melihat sesungguhnya ia lebih baik dari kita, dan
sesungguhnya ia lebih utama dari pada kita, jika kita melihat yang lebih kecil
maka kita menganggap bahwa ia tidak pernah maksiat sedangkan kita melakukannya,
maka janganlah ragu sesungguhnya ia lebih baik dari kita, jika kita melihat
orang yang lebih besar maka kita menganggap bahwa ia lebih dahulu melakukan
ibadah, maka tidaklah ragu sesungguhnya ia lebih baik dariku, jika memandang
orang yang alim maka kita menganggap bahwa ia diberi sesuatu yang aku tidak
mempunyainya dan ia telah sampai apa yang aku belum sampai, dan ia mengetahui
yang aku tidak tahu, bagaimana aku bisa menyamainya, jika kita memandang orang
bodoh maka kita menganggap bahwa ia maksiat kepada Allah tapi tidak tahu bahwa
itu maksiat akan tetapi kita melakukan maksiat tapi mengetahui bahwa itu
maksiat maka pertanyaan Allah kepada kita akan lebih berat, dan kita tidak tahu
bagaimana akhir umur kita dan akhir umur dia? Walaupun kepada orang kafir kan
kita tidak tahu mungkin saja ia masuk islam dan mati dalam keadaan islam dengan
melakukan amal yang baik, dan seluruh dosanya lepas dengan sebab masuk islam
sebagaimana terlepasnya rambut dari adonan, sedangkan kita mungkin saja Allah
meyesatkan kita dan masuk kafir terus mati tidak membawa iman Na-udzu
billah, kami berlindung kepada
Allah semoga Allah menjaga Iman kita semua dan mati dalam keadaan mati Islam
dan membawa Iman. Maka dia (orang kafir yang masuk islam) termasuk orang yang
dekat dengan Allah sedangkan kita termasuk orang yang jauh.
Oleh sebab itu
janganlah kita merasa besar kecuali jika kita mengetahui bahwa orang yang besar
adalah orang yang besar menurut Allah dan itu diketahuinya pada ahir umurnya
dengan mati khusul khotimah, dan itu masih diragukan, maka dengan kita
menyibukkan diri berusaha bisa mati khusnul khotimah itu bisa menghilangkan
merasa besar atau sombong kepada makhluk lainnya, keyaqinan kita dan iman kita
sekarang ini bisa saja tergoyahkan nanti diakhir umurnya, sebab Allah yang
membolak balikkan hati yang memberi petunjuk kepada orang yang Allah sukai dan
menyesatkan yang Allah sukai, semoga kita semua termasuk orang yang mendapat
petunjuk dari Allah amin.
KUMPULAN HADITS
TENTANG MAKSIAT-MAKSIAT HATI
Hadits tentang hasud sombong riya
dan ujub itu banyak sekli dan cukup kita memegang satu hadits ini yang
diriwayatkan oleh ibnu Mubarok. dari seseorang yang ia bertanya kepada Sahabat
Muadz “ wahai Muadz ceritakan kepadaku sebuah hadits yang engkau mendengarnya
dari Rosulullah saw, muadaz menjawabnya dengan menangis sehingga ia tidak mau
berhenti kemudian diam lantas berkata Duh aku rindu seklai sama Rosulullah saw
dan ingin sekali bertemu dengannya kemudian berkata saya mendengar Rosul saw
bersabda “ Wahai Muadz saya menceritakan satu hadits yang jika kamu
menghafalnya maka akan bermanfaat di sisi Allah jika kamu menyia-nyiakannya dan
tidak menghafalnya maka kamu tidak akan bisa menjawab di hadapan Allah pada
hari qiyamat, wahai Muadz sesungguhnya Allah menciptakan tujuh malaikat sebelum
menciptakan langit dan bumi, maka Allah menjadikan setiap satu pintu langit
dijaga oleh satu malaikat, maka ketika malaikat Hafadzoh (pembawa catatan amal
manusia) datang membawa catatan amal manusia dari pagi sampai sore dan ia
mempunyai cahaya seperti cahaya matahari hingga naik sampai langit dunia dan
malaikat hafadzoh memujinya dan menganggap amalnya banyak, setelah diperiksa
oleh malaikat penjaga langit itu, malaikat penjaga langit berkata kepada
malaikat hafadzoh pukulkan catatan amal ini ke wajah pemiliknya, saya adalah malaikat
pemeriksa Ghibah, Allah memerintah aku untuk menjegal amalnya orang yang
berbuat ghibah yang melewati pintu langit pertama, kemudian malaikat hafadzoh
membawa amal sholeh hamba-hamba Allah hingga sampai ke malaikat penjaga langit
kedua kemudian malaikat penjaga menghentikan malaikat hafadzoh dan memerintah
malaikat hafadzoh untuk memukulkan buku catatan amal ini kepada pemiliknya,
sebab di catatan amalnya ada cinta dunianya, Allah memerintahku agar menjegal
orang yang merasa besar dihadapan manusia.
فقد روى ابن المبارك بإسناده عن رجل أنه قال لمعاذ: يا معاذ حدثني
حديثا سمعته من رسول الله صلى الله عليه وسلم، قال: (فبكى معاذ حتى ظننت أنه لا
يسكت، ثم سكت، ثم قال: واشوقاه إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم وإلى لقائه، ثم
قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول لي: (يا معاذ، إني محدثك بحديث إن
أنت حفظته نفعك عندالله، وإن ضيعته ولم تحفظه انقطعت حجتك عند الله تعالى يوم
القيامة يا معاذ إن الله تبارك وتعالى خلق سبعة أملاك قبل أن يخلق السموات والأرض،
فجعل لكل سماء من السبع ملكا بوابا عليها، فتصعد الحفظة بعمل العبد من حين يصبح
إلى حين يمسي، له نور كنور الشمس، حتى إذا صعدت به إلى السماء الدنيا زكته وكثرته،
فيقول الملك الموكل بها للحفظة: اضربوا بهذا العمل وجه صاحبه، أنا صاحب الغيبة،
أمرني ربي ألا أدع عمل من اغتاب الناس يجاوزني إلى غيري، قال: ثم تأتي الحفظة بعمل
صالح من أعمال العبد له نور فتزكيه وتكثره حتى تبلغ به إلى السماء الثانية، فيقول
لهم الملك الموكل بها: قفوا، واضربوا بهذا العمل وجه صاحبه، إنه أرا بعمله عرض
الدنيا، أنا ملك الفخر، أمرني ربي ألا أدع عمله يجاوزني إلى غيري، إنه كان يفتخر على الناس في مجالسهم،
Nabi
bersabda “ Malaikat Hafadzoh membawa
amal para hamba yang sinarnya berkilawan yang keluar dari sedekah, sholat dan
puasa dan malaikat hafadzoh benar-benar heran setelah melewati langit ke tiga
di berhentikan oleh penjaga langit ke tiga untuk memeriksa amalnya setelah di
periksa pukulkanlah catatan amal ini kepada wajah pemiliknya sebab saya adalah
malaikat pemeriksa sombong dan aku diperintah untuk menjegal amal hamba yang
terdapat sifat sombongnya, sebab ia sombong atas manusia yang lain di dalam
majlisnya,
قال: وتصعد الحفظة بعمل العبد يبتهج نورا، من صدقة وصلاة وصيام، قد
أعجب الحفظة، فيجاوزون به إلى السماء الثالثة، فيقول لهم الملك الموكل بها: قفوا،
واضربوا بهذا العمل وجه صاحبه، أنا ملك الكبر، أمرني ربي ألا أدع عمله يجاوزني إلى
غيري؛ إنه كان يتكبرى على الناس في مجالسهم،
Nabi
bersabda” Malaikat Hafadzoh membawa
amal hamba dan amal itu indah sekali sebagaimana indahnya bintang-bintang yang
bersinar, dan diiringi suara dengungan
dari tasbih, sholat, puasa haji dan umroh hingga melewati langit ke empat
ketika melewati langit ke empat penjaganya memberhentikannya dan memeriksa
catatan amal tersebut setelah memeriksanya pukulkanlah catatan ini kepada wajah
pemiliknya, punggungnya dan perutnya sebab saya adalah malaikat pemeriksa Ujub
Allah memerintahku agar menjegal catatan amal yang terdapat sifat ujub”,
قال: وتصعد الحفظة بعمل العبد يزهو كما يزهو الكوكب الدري وله دوي من
تسبيح وصلاة وصيام وحج وعمرة، حتى يجاوزا به إلى السماء الرابعة، فيقول لهم الملك
الموكل بها: قفوا، واضربوا بهذا العمل وجه صاحبه وظهره وبطنه، أنا صاحب العجب،
أمرني ربي ألا أدع عمله يجاوزني إلى غيري؛ إنه كان إذا عمل عملا أدخل العجب فيه،
Nabi
bersabda “ Malaikat hafadzoh membawa
amal hingga sampai ke langit ke lima seolah-olah ia pengantin lantas
diberhentikan oleh malaikat penjaga langit ke lima dan setelah memeriksanya
pukulkanlah ke wajah pemiliknya dan taruhlah di punggungnya, saya adalah
malaikat pemeriksa hasud, sesungguhnya ia hasud kepada orang yang belajar dan
beramal seperti amalnya, dan hasud kepada orang yang melakukan keutamaan dari
ibadah, Allah memerintah saya agar menjegal amal yang ada sifat hasudnya,
قال: وتصعد الحفظة بعمل العبد حتى يجاوزا به إلى السماء الخامسة كأنه
العروس المزفوفة إلى بعلها، فيقول الملك الموكل بها: قفوا واضربوا بهذا العمل وجه
صاحبه، واحملوه على عاتقه، أنا ملك الحسد، إنه كان يحسد من يتعلم ويعمل بمثل عمله،
وكل من كان يأخذ فضلا من العبادة كان يحسدهم، ويقع فيهم، أمرني ربي ألا أدع عمله
يجاوزني إلى غيري.
Nabi
bersabda “ Malaikat hafadzoh membawa
amal hamba dan ia mempunyai cahaya dari sholat, zakat, haji dan umroh, jihad
dan puasa seperti sinar matahari, hingga sampai ke langit ke enem, sesampainya
disitu malaikat penjaga langit ke enam memberhentikannya lantas memeriksa
catatan amalnya terus berkata pukulknlah catatan amal ini ke wajah pemiliknya
sesungguhnya ia tidak kasih sayang kepada manusia yang terkena musibah atau
sakit bahkan ia merasa senang, saya adalah malaikat Rohmat, Allah memerintahku
agar menjegal amal hamba yang tidak kasih sayang kepada sesamanya yang melewati
pintu ini.
قال: وتصعد الحفظة بعمل العبد له ضوء كضوء الشمس، من صلاة وزكاة وحج
وعمرة وجهاد وصيام، فيجاوزون به إلى السماء السادسة، فيقول لهم الملك الموكل بها:
قفوا واضربوا بهذا العمل وجه صاحبه؛ إنه كان لا يرحم إنسانا قد من عباد الله أصابه
بلاء أو مرض، بل كان يشمت به، أنا ملك الرحمة، أمرني ربي ألا أدع عمله يجاوزني إلى
غيري،
Nabi
bersabda” Malaikat Hafadzoh naik
membawa amal hamba berupa puasa, sholat, memberi nafkah, berperang di jalan
Allah, dan waro’ dan ia mempunyai dengungan
seperti dengungan tawon dan bersinar seperti sinarnya matahari dan diiring oleh
tiga ribu malaikat dan sampai ke langit ke tujuh, sesampainya disitu
diberhentikan oleh malaikat penjaganya, terus memeriksanya lantas berkata
pukulkanlah ke wajah pemiliknya dan ke anggota tubuhnya dan kunci ke dalam hatinya,
saya shohibudz dzikri (pemeriksa amal dzikir) dan saya menghalangi sampai
kepada Allah setiap amal yang tidak karena Allah, sebab ia beramal bukan karena
Allah akan tetapi ingin di anggap tinggi di hadapan para ahli fiqih, mashur di
kalangan ulama, dan mendapat sebutan baik di segala penjuru kota, Allah
memerintahku agar menjegal amal yang tidak karena Allah atau Riya dan Allah
tidak menerima amalnya orang yang riya.
قال: وتصعد الحفظة بعمل العبد من صوم وصلاة ونفقة وجهاد وورع، له دوي
كدوى النحل، وضوء كضوء الشمس، ومعه ثلاثة آلاف ملك، فيجاوزون به إلى السماء
السابعة، فيقول لهم الملك الموكل بها: قفوا، واضربوا بهذا العمل وجه صاحبه،
واضربوا جوارحه واقفلوا به على قلبه، أنا صاحب الذكر، فإني أحجب عن ربي كل عمل لم
يرد به وجه ربي؛ إنه إنما أراد بعمله غير الله تعالى، إنه أراد به رفعة عند
الفقهاء، وذكرا عند العلماء، وصيتا في المدائن، أمرني ربي ألا أدع عمله يجاوزني
إلى غيري وكل عمل لم يكن لله تعالى خالصا فهو رياء، ولا يقبل الله عمل المرائي..
Nabi
Muhammad saw bersabda” Malaikat Hafadzoh membawa
amal hamba berupa sholat zakat puasa haji, umroh berakhlak baik, diam, dan
dzikir kepada Allah dengan diiring oleh para malaikat tujuh hingga bisa
melewati semua malaikat penjaga langit, hingga sampai ke Allah, dan berdiri di
hadapannya dan semuanya menyaksikan bahwa ia melakukan Amal sholeh ikhlas
karena Allah, terus Allah berfirman “ Kalian telah memeriksa amal
hamba-Ku, dan Aku melihat dihatinya sesungguhnya amalnya ini bukan karena Aku,
Ibadahnya bukan karena Aku, maka ia mendapat laknat-Ku dan para malikat yang
dihadapannya semuanya berkata ia mendapat laknat Mu dan laknat kami, lantas
seluruh malaikat yang ada di langit sampai tujuh lapispun ikut melaknatinya,
kemudian sahabat Muadz menangis dan menyaringkan suara tangisannya dengan
kencang sekali,
قال: وتصعد الحفظة بعمل العبد من صلاة وزكاة وصيام وحج وعمرة وخلق
حسن وصمت وذكر الله تعالى، فتشيعه ملائكة السموات السبع حتى يقطعوا به الحجب كلها
إلى الله تعالى، فيقفون بين يديه، ويشهدون له بالعمل الصالح المخلص لله تعالى،
فيقول الله تعالى: أنتم الحفظة على عمل عبدي، وأنا الرقيب على ما في قلبه؛ إنه لم
يردني بهذا العمل، وإنما أراد به غيري، فعليه لعنتي، فتقول الملائكة كلها: عليه
لعنتك ولعنتنا، فتلعنه السموات السبع ومن فيهن) ثم بكى معاذ، وانتحب انتحابا
شديدا،
Sahabat
Muadz berkata Saya bertanya “wahai
Rosulullah saw Engkau adalah Rosulullah sedangkan saya Muadz bagaimana saya
bisa selamat dan aman dari Ghibah, merasa besar, sombong, Ujub, hasud, sum’ah dan
riya? Nabi Menjawab “wahai Muadz ikutilah jejakku
dengan yaqin, jika amalmu sedikit maka jagalah lidahmu dari ghibah terhadap teman-temanmu
khususnya yang hafal al-qur’an, bawalah dosa-dosamu
diatas pundakmu jangan membawakannya diatas pundak teman-temanmu, jangan
membersihkan dirinya dengan mencela orang lain, jangan meninggikan atau
membesarkan dirinya dengan merendahkan orang lain, jangan memasukkan amal dunia
ke dalam amal akherat, jangan berbuat riya dengan amalmu, jangan sombong di
majlismu supaya tidak menyakiti orang lain dengan akhlak jelekmu, janganlah
berbisik-bisik jika ada orang lain disampingnya, jangan merasa orang besar maka
akan terhalang kebaikan dunia, jangan merobek-robek harga diri manusia dengan
lidahmu maka akan merobek-robekmu anjing neraka pada hari qiyamat, Allah
berfirman وَالناشِطاتِ
نَشطا apakah kamu tahu siapakah
itu wahai muadz? Saya (Muadz) berkata siapakah dia wahai Rosulullah ? Nabi
Muhammad saw bersabda “anjing yang menyisir daging
dari tulangnya,
وقال معاذ: قلت يارسول الله أنت رسول الله وأنا معاذ، فكيف لي
بالنجاة والخلاص من ذلك؟ قال: (اقتد بي وإن كان في عملك نقص، يامعاذ حافظ على
لسانك من الوقيعة في إخوانك من حملة القرآن خاصة، واحمل ذنوبك عليك، ولا تحملها
عليهم، ولا تزك نفسك بذمهم، ولا ترفع نفسك عليهم، ولا تدخل عمل الدنيا في عمل
الآخرة، ولا تراء بعملك، ولا تتكبر في مجلسك، لكي يحذر الناس من سوء خلقك، ولا
تناج رجلا وعندك آخر، ولا تتعظم على الناس فتنقطع عنك خيرات الدنيا والآخرة، ولا
تمزق الناس بلسانك فتمزقك كلاب النار يوم القيامة في النار، قال الله تعالى:
(وَالناشِطاتِ نَشطا)، هل تدري من هن يا معاذ؟، قلت: ما هن - بأبي أنت وأمي - يارسول
الله ؟ قال: (كلاب في النار تنشط اللحم من العظم)،
Saya bertanya
demi ibu dan bapak wahai Rosulullah saw siapa orang yang kuat dari ini dan
siapa yang selamat dari ini? Nabi Menjawab wahai Muadz sesungguhnya itu mudah
bagi orang yang dimudahkan Allah, dan yang bisa mencukupi dari itu adalah kamu
mencintai seluruh manusia seperti mencintai dirimu, dan kamu membenci untuk
mereka seperti apa yang kamu benci (tidak sukai), jika kamu begitu maka akan
selamat.
قلت: بأبي أنت وأمي يارسول الله ، من يطيق هذه
الخصال ومن ينجو منها؟ قال: (يا معاذ إنه ليسير على من يسره الله تعالى عليه، إنما
يكفيك من ذلك أن تحب للناس ما تحب لنفسك، وتكره لهم ما تكره لنفسك، فإذن أنت يامعاذ
قد سلمت).
Kholid bin
Ma’dan berkata “ Saya tidak melihat
seseorang yang paling banyak membaca quran daripada sahabat Muadz, Hadits ini
beritanya agung siksanya pedih, atsar beritanya menjadikan hati terbang dan
akal menjadi bingung, dada menjadi sesak dan gaungnya menakutkan jiwa. Maka
camkanlah wahai orang yang mencintai ilmu ini, ketahuilah penyebab terbesar
dalam tetapnya kebusukan-kebusukan sifat ini (Ghibah, hasud, merasa orang
besar, sombong, ujub, sum’ah dan riya) dalam hati adalah
sebab mencari ilmu untuk mencari keagungan, keindahan diri, orang-orang bodo
menjauhi mempelajari ilmu ini, orang yang memahami agama mempelajari
benar-benar ilmu ini dan mengetahui bahaya-bahaya-nya jika terjerumus
melakukannya, maka pikirkanlah manakah yang kamu pilih apakah mempelajari tata
cara menjauhi sifat-sifat busuk ini dan menyibukkan belajar memperbaiki hati
dan menghidupkan akheratmu? Atau memilih yang lebih penting yaitu masuk bersama
ucapan orang yang tidak bermanfaat, terus mempelajari ilmu yang menambah sifat
sombong, riya, hasud dan ujub hingga rusak.
قال خالد بن معدان: فما رأيت أحدا أكثر تلاوة للقرآن العظيم من معاذ
لهذا الحديث العظيم. فتأمل أيها الراغب في العلم هذه الخصال، واعلم أن أعظم
الاسباب في رسوخ هذه الخبائث في القلب: طلب العلم لأجل المباهاة والمنافسة،
فالعامي بمعزل عن اكثر هذه الخصال،والمتفقه مستهدف لها، وهو متعرض للهلاك بسببها؛
فانظر آي أمورك أهم، أتتعلم كيفية الحذر من هذه المهلكات، وتشتغل بإصلاح قلبك
وعمارة آخرتك؟ أم الأهم أن تخوض مع الخائضين، فتطلب من العلم ما هو سبب زيارة
الكبر والرياء والحسد والعجب، حتى تهلك مع الهالكين.
Ketahuilah
sesungguhnya tiga sifat ini adalah bibit kebusukan hati, dan bibit itu timbul
dari satu sumber yaitu cinta dunia oleh sebab itu nabi saw bersabda
قال النبي صلى الله عليه وسلم: (حب الدنيا رأس كل خطيئة)،
Nabi saw
bersabda “ Cinta dunia itu bibit
segala macam sifat jelek”.
Bersamaan dengan cinta dunia bibit
kejelekan maka dunia juga ladang akherat, barang siapa mengambil dunia dengan
kadar darurat saja yaitu agar bisa menolong untuk ke akherat maka dunia itu
ladang akherat, dan barang siapa menginginkan dunia agar bisa melakukan
berbagai kenikmatan maka dunia akan merusaknya, maka ini adalah sedikit
cuplikan dari dzohirnya ilmu taqwa yaitu bidayatul hidayah (permulaan mendapat
hidayah), jika ingin memperdalam maka bacalah kitab Ihya Ulumiddin agar bisa
mengetahui tata cara bertaqwa dan bisa sampai ke dalamnya taqwa, jika mencari
ilmu dari banyak omongan dan obrolan, pertengkaran dan perdebatan maka alangkah
besarnya musibah itu, dan alangkah lamanya rasa cape itu, dan alangkah besar
kerugian itu, maka sesungguhnya dunia yang kita cari dengan agama itu tidak
akan selamat, dan akherat akan keluar dari kita, dan barang siapa mencari dunia
dengan agama maka akan rugi semuanya, barang siapa meninggalkan dunia untuk
menuju akherat maka akan untung semuanya, jika kita menghidupkan batin hati
kita dengan taqwa maka akan dihilangkan penghalang antara kita dan Allah, dan
akan terbuka cahaya-cahaya kema’rifatan dan akan terpancar
dari hati kita sumber-sumber ilmu, dan akan tampak rahasia-rahasia Allah yang
menjadi raja, dan akan mudah mendapatkan ilmu Ladunni dari Allah. (Al Ghozali,
Bidaytul hiayah : 85)
Langganan:
Komentar (Atom)